2 tahun aku sendiri dalam kesibukan kuliah dan kerja, mulai lah aku dengan petualang-petualang ku. disini ku mulai dosa-dosa ku. untuk pertama kalinya aku menyentuh alkohol pada saat salah satu spupu ku mengajak kesalah satu bar terbesar di jakarta.. semula ku tolak minuman haram itu, namun temannya pun mencoba menyekoki. alhasil terminum juga minuman entah apa namanya. tanpa disadari 3 jam kemudia aku mabuk, kehilangan kesadaran. seingat ku teman sepupu ku mencoba menciumku saat aku tengah tidak sadar. entah bagaimana akhirya aku ikut sepupuku iitu pulang kerumahnya dan menginap. mungkin ia takut dengan mama kalau kalau dia memulangkan ku dengan keadaan mabuk. esok pagi aku bangun dengan rasa takut dan terkejut ketika sadar aku tidak berada dikamarku. semenit, dua menit kuperhatikan ternyata ini kamar sepupuku dini. dengan diiringi rasa pusing yang hebat aku memaksakan tubuh untuk berjalan kekamar mandi. aku sedikit lega karna ternyata aku masih perawan ( mengecek tidak ada bercak darah keperawanan yang keluar), rasa ngeri ku memikirkan hal yang satu itu kalau saja tadi malam saat tengah mabuk aku diperkosa.
esok hari nya teman sepupuku yang ternyata benar2 mencium ku malam itu menelepon, entah dari mana dia mendapatkan nomor ku. dia meminta maaf, dari kejadian itu kami mulai dekat sampai suatu hari ku ketahui ternyata dia telah mempunya pacar yg sudah dia bina lebih dari 7tahun. sekali lagi aku kecewa, tapi tidak terlalu dalam untungnya.
selang beberapa minggu di umurku 21 tahun aku dikenalkan dengan pria dewasa, berwibawa, dan berkarakter oleh temanku. tak butuh waktu lama untuk tertarik dengan Fajar namanya. seorang manager suatu perusahaan besar di Indonesia, pembawaan yang tenang namun sedikit nakal, suaranya yang berat, sikap yang selalu menghormati perempuan, melayani perempuan layaknya seorang ratu, aku suka semua nya. saat itu aku memulai hubungan serius dengannya. Fajar memenuhi kriteria pria idaman semua wanita dewasa, ketika aku menjalin hubungan dengan nya tak sedikit wanita lain merasa cemburu padaku. ada yang berusaha mengintip profil ku di friendster, ada pula yang sengaja membuat ku cemburu dengan menampilkan komentar-komentar mesra di profil friendster milik Fajar. aku tidak ambil pusing dengan hal itu.yang aku tahu aku dan Fajar baik2 saja.hubungan kami lancar, tiap akhir minggu pun kami pasti bertemu untuk melepas rasa kangen kami masing2 dan terkadang aku harus menempuh jarak yang lumayan jauh untuk menghampiri Fajar dikala dia sibuk dengan pekerjaannya. oia, aku hampir lupa kalau Fajar itu seorang duda berumur 30 tahun tidak memiliki anak , tapi aku pun tidak peduli dengan status itu yang ku tahu aku cinta dia!
Berbulan bulan ku jalani hubungan kami, sampai disuatu hari aku dikejutkan dengan suara perempuan di line telepon milik Fajar. semula aku berfikir kalau itu bisa saja kakak perempuannya. aku sempat ingat ceritanya kalau Fajar punya seorang kakak perempuan. tenyata dugaan ku salah, perempuan itu lagi lagi mengangkat Handphone milik Fajar pada saat aku menelepon keesok malamnya.Kali ini wanita itu membuatku naik darah saat dia bilang dia sedang "bersenang-senang" dengan Fajar malam itu disuatu hotel, ku raih tas ku dan ku coba hampiri Hotel biasa Fajar menginap jika di jakarta. disitu kudapati Fajar memang benar-benar sedang 'tidur' bersama wanita lain yang lebih dewasa dibandingkan ku hanya gadis bodoh berusia 21 tahun. aku pulang kerumah, dan setelah bertahun-tahun kusembunyikan air mata ini akhirnya dia tumpah juga. dikamar yang sepi ku meraung-ranung menyesali kejadian itu.berkali-kali ku kutuk Fajar dalam hati, berharap dia sudah mati didunia sehingga aku tidaka akan pernah melihatnya lagi. tanpa penjelasan apa-apa dari Fajar kusidahi hubungan kami.ternyata Fajar tidak lebih dari hidung belang kelas kakap, entah berapa banyak perempuan yg sudah dia tiduri..yang pasti bukan aku!
Terakhir ku dengar kabar Fajar menghamili perempuan entah siapa dia dan bertanggung jawab dengan menikahi perempuan itu.. poor u lady!
Senin, 13 Juli 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar